Dari Bali untuk Indonesia: Universitas Udayana Menjadi Tuan Rumah HOGSI 2027 untuk Memperkuat Kolaborasi Kesehatan Perempuan

Bali kembali menjadi titik temu berbagai gagasan untuk kesehatan Indonesia. Pada 2027, Universitas Udayana dipercaya menjadi tuan rumah Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI). Dengan mengangkat tema “Penguatan Layanan Kesehatan Melalui Kolaborasi Lintas Profesi Bersama Pengambil Kebijakan dalam Upaya Percepatan Penurunan AKI, Stunting & Kanker Serviks”, HOGSI 2027 membawa pesan bahwa tantangan kesehatan perempuan membutuhkan kolaborasi dan tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri.
Ketika Tiga Tantangan Kesehatan Bertemu
Angka Kematian Ibu (AKI), stunting, dan kanker serviks merupakan persoalan kesehatan yang memiliki karakteristik berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan, yaitu penanganannya membutuhkan sistem kesehatan yang kuat dan kerja sama berbagai pihak.
Keselamatan ibu tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang persalinan. Upaya menurunkan risiko kematian ibu dimulai sejak sebelum kehamilan, berlanjut melalui pemeriksaan kehamilan, deteksi faktor risiko, persalinan yang aman, hingga pelayanan setelah melahirkan.
Demikian pula dengan stunting. Pencegahan stunting tidak dimulai ketika seorang anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya tersebut berkaitan erat dengan kesehatan dan status gizi ibu sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, masa menyusui, hingga tumbuh kembang anak.
Sementara itu, kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang memiliki peluang untuk dicegah dan dideteksi lebih dini melalui upaya promotif, preventif, vaksinasi HPV, skrining, serta tata laksana yang tepat.
Ketiga persoalan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan berbagai pihak.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Tema HOGSI 2027 menempatkan kolaborasi lintas profesi sebagai salah satu fondasi utama dalam memperkuat pelayanan kesehatan perempuan.
Dalam pelayanan kesehatan perempuan, seorang dokter tidak bekerja sendirian. Dokter, bidan, perawat, ahli gizi, tenaga kesehatan masyarakat, akademisi, peneliti, hingga pemangku kebijakan memiliki peran masing-masing dalam membangun sistem pelayanan yang berkesinambungan.
Di tingkat masyarakat, kader dan keluarga juga memiliki peran penting dalam mendukung upaya promotif dan preventif. Sementara di tingkat kebijakan, diperlukan keputusan yang mampu menerjemahkan kebutuhan masyarakat menjadi program dan sistem pelayanan yang dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Ketika berbagai profesi bekerja dalam satu arah, pelayanan kesehatan dapat menjadi lebih terintegrasi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh.
Universitas Udayana sebagai Titik Temu
Sebagai institusi pendidikan tinggi di Bali, Universitas Udayana memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pendidikan, penelitian, pelayanan kesehatan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Penyelenggaraan HOGSI 2027 menjadi kesempatan untuk menghadirkan berbagai perspektif tersebut dalam satu forum. Para dokter dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah dapat berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi di lapangan.
Akademisi dan peneliti dapat membawa hasil penelitian untuk didiskusikan bersama. Sementara para pengambil kebijakan dapat melihat secara lebih dekat bagaimana berbagai tantangan kesehatan diterjemahkan dalam praktik pelayanan.

Dari sinilah sebuah forum ilmiah dapat berkembang menjadi ruang untuk menyatukan pengalaman lapangan, bukti ilmiah, dan arah kebijakan dalam upaya memperkuat pelayanan kesehatan perempuan.
Bali sebagai Ruang Pertemuan
Bali memberikan konteks yang menarik bagi penyelenggaraan HOGSI 2027. Sebagai daerah dengan karakteristik masyarakat dan geografis yang beragam, Bali memiliki pengalaman tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Bali memiliki infrastruktur yang mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan nasional dan internasional. Pertemuan HOGSI 2027 di Bali juga berpotensi memberikan manfaat di luar sektor kesehatan melalui keterlibatan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan usaha lokal.
Namun, manfaat terpentingnya bukan hanya pada aktivitas selama kegiatan berlangsung. Yang lebih penting adalah apa yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta, baik berupa pengetahuan baru, gagasan, jejaring, maupun peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di daerah masing-masing.
Dari Diskusi Menjadi Aksi
Pertemuan ilmiah sering kali dimulai dengan sebuah pertanyaan: apa yang dapat kita lakukan dengan lebih baik?
HOGSI 2027 dapat menjadi ruang untuk mendiskusikan berbagai pertanyaan tersebut secara bersama-sama, mulai dari bagaimana memperkuat pelayanan ibu, meningkatkan deteksi dan penanganan risiko kehamilan, mencegah stunting sejak sebelum seorang anak lahir, hingga memperluas kesadaran dan akses terhadap skrining kanker serviks.
Tidak kalah penting, forum ini juga menjadi ruang untuk membahas bagaimana profesi kesehatan dan pengambil kebijakan dapat bekerja bersama dalam menjawab berbagai persoalan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang sederhana. Namun, melalui pertemuan berbagai perspektif, solusi yang lebih komprehensif dapat terus dikembangkan.
Membangun Jejaring, Membawa Pulang Perubahan
HOGSI 2027 di Universitas Udayana bukan hanya tentang sebuah konferensi di Bali. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan orang-orang yang setiap hari bekerja untuk tujuan yang sama dari berbagai tempat di Indonesia.
Para peserta datang membawa pengalaman masing-masing, berdiskusi, berbagi ilmu, dan membangun jejaring. Setelah kegiatan selesai, berbagai gagasan tersebut dapat dibawa kembali ke daerah masing-masing untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat.
Dari Bali untuk Indonesia
Tema HOGSI 2027 menegaskan pentingnya kolaborasi dalam upaya memperkuat pelayanan kesehatan perempuan dan mendukung percepatan penurunan AKI, stunting, serta kanker serviks.
- Kolaborasi antara berbagai profesi kesehatan.
- Kolaborasi antara institusi pendidikan, pelayanan, dan penelitian.
- Kolaborasi antara dunia akademik dan pelayanan kesehatan.
- Kolaborasi antara tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan.
- Kolaborasi bersama masyarakat dalam mendukung upaya promotif dan preventif.
Universitas Udayana, sebagai tuan rumah HOGSI 2027, menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bali menjadi tempat bertemunya gagasan, Universitas Udayana menjadi ruang kolaborasi, dan HOGSI menjadi wadah untuk memperkuat jejaring.
Tujuan akhirnya adalah mendorong pelayanan kesehatan yang lebih kuat, lebih terintegrasi, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Karena perubahan dalam kesehatan dapat dimulai dari sebuah pertemuan, sebuah gagasan, dan banyak pihak yang bekerja bersama. Dari Bali, untuk kesehatan perempuan Indonesia.



