Basic Surgical Skill I 2026: Menguasai Dasar, Menjaga Keselamatan

Basic Surgical Skill I mempertemukan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Universitas Udayana dan Universitas Mataram dalam pelatihan intensif yang menekankan standardisasi teknik, ketelitian, keselamatan pasien, dan kesiapan menghadapi tindakan operatif.
Keterampilan bedah yang aman tidak dibangun dari keberanian semata, melainkan dari penguasaan teknik dasar yang dilakukan berulang, dinilai secara objektif, dan dikoreksi oleh pelatih. Atas dasar itu, Program Studi Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Udayana menyelenggarakan Kursus Bedah Dasar Trigonum setelah ditunjuk oleh Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia sebagai panitia pelaksana. Sebanyak 17 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas 11 peserta Universitas Udayana dan 6 peserta Universitas Mataram.
Fondasi Kompetensi: Teknik Dasar yang Menentukan Mutu Tindakan

Hari pertama dirancang untuk membangun kerangka berpikir bedah: etika, pencegahan infeksi, pengenalan instrumen, teknik simpul, insisi, dan penjahitan. Pelatihan dibuka dengan pemetaan harapan dan kekhawatiran peserta, dilanjutkan gambaran umum kursus serta kuesioner awal. Tahap ini menempatkan peserta sebagai pembelajar aktif yang memahami tujuan, batas kompetensi, dan tanggung jawab profesional selama mengikuti pelatihan.
Dari Instrumen ke Gerakan Tangan

Sesi praktik hari pertama berfokus pada penggunaan instrumen dasar — pisau, pinset, klem, gunting, dan needle holder — dilanjutkan latihan square knot, surgeon knot, dan slip knot. Peserta kemudian berlatih membuat insisi elips maupun linier serta melakukan berbagai teknik penjahitan, termasuk interrupted, continuous, vertical mattress, horizontal mattress, dan subcuticular.
Simulasi Bedah

Hari kedua membawa peserta pada latihan yang semakin aplikatif: hemostasis, diseksi tajam, reparasi cedera organ, episiotomi, dan electrosurgery. Hemostasis dan diseksi tajam menjadi pintu masuk untuk memahami prinsip bekerja secara terkontrol di lapangan operasi. Peserta belajar bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan orientasi anatomi, perlindungan jaringan, dan pengendalian perdarahan.
- 01. HEMOSTASIS - Mengidentifikasi sumber perdarahan dan memilih teknik kontrol yang tepat.
- 02. DISSEKSI - Memisahkan jaringan secara tajam dengan arah dan tegangan yang aman.
- 03. REPARASI - Memahami prinsip penutupan cedera usus dan vesika urinaria.
- 04. ENERGI - Menggunakan electrosurgery dengan memahami manfaat dan risikonya.

Melalui simulasi, peserta belajar menyusun langkah operasi dari identifikasi masalah, pemilihan instrumen, manipulasi jaringan, hingga evaluasi hasil akhir. Penekanan utama bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi melakukannya dengan teknik yang konsisten dan aman.
Penilaian Objektif: OSCE (Objective Structured Clinical Examination)


Hari ketiga menguji kemampuan peserta melalui Objective Structured Clinical Examination, umpan balik, dan evaluasi akhir pelatihan. OSCE menjadi tahap penting untuk memastikan bahwa pengetahuan telah berubah menjadi keterampilan yang dapat diamati.
- 01. ASEPSIS - Menyiapkan area kerja dan mempertahankan prinsip pencegahan infeksi.
- 02. INSTRUMEN - Memilih dan menggunakan alat sesuai fungsi serta arah kerja.
- 03. TEKNIK - Melakukan simpul, insisi, jahitan, dan reparasi dengan langkah yang tepat.
- 04. JARINGAN - Memegang serta memanipulasi jaringan tanpa menimbulkan trauma berlebihan.
- 05. KESELAMATAN - Mengenali risiko perdarahan, cedera organ, dan penggunaan energi.
- 06. KOMUNIKASI - Menjelaskan tindakan, bekerja sistematis, dan menerima instruksi pelatih.
Kolaborasi dan Apresiasi: Satu Standar, Dua Senter Pendidikan

Basic Surgical Skill I menjadi ruang kolaborasi pelatih dan peserta dari Universitas Udayana serta Universitas Mataram untuk menjaga mutu pendidikan bedah obstetri dan ginekologi. Pelatihan dipimpin oleh Prof. Dr. dr. T. Mirza Iskandar, Sp.O.G., Subsp.Onk. selaku Direktur Pelatihan, didukung tim pelatih dari Denpasar dan Mataram.

Dampak yang Diharapkan
Melalui kursus ini, peserta diharapkan memiliki fondasi teknik bedah yang lebih seragam sebelum berhadapan dengan situasi klinis nyata. Standardisasi pada tahap awal membantu menurunkan variasi teknik yang tidak perlu, meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan, dan membentuk kebiasaan kerja yang terstruktur.



