Pelatihan USG Dasar 2026: Menyamakan Standar, Menguatkan Kompetensi

Ultrasonografi kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik spesialis obstetri dan ginekologi. Ketepatan membaca gambaran USG berpengaruh langsung terhadap diagnosis, perencanaan tata laksana, dan keselamatan pasien. Karena itu, kompetensi tidak cukup hanya dibangun melalui pengalaman; ia perlu diajarkan, dilatih, dan dinilai dengan standar yang sama.
Pelatihan yang diselenggarakan Komisi Pelatihan Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia bersama Universitas Udayana dan Universitas Mataram ini menjadi ruang untuk menyatukan praktik klinis, etika, teknologi, serta sistem penilaian berbasis kompetensi. Sebanyak 18 peserta (12 dari Universitas Udayana dan 6 dari Universitas Mataram) mengikuti pelatihan ini.
Latar Belakang: Standar yang Sama untuk Pelayanan yang Lebih Merata

Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia bersama 16 senter pendidikan PPDS Obgin telah mengembangkan upaya standardisasi pelatihan USG. Tujuannya sederhana namun mendasar: memastikan kemampuan menggunakan USG pada tingkat dasar tidak bergantung pada lokasi pendidikan, melainkan mengacu pada kompetensi yang seragam dan terukur.
Format tatap muka luring memungkinkan peserta memperoleh koreksi langsung atas posisi probe, pengaturan alat, sistematika pemeriksaan, interpretasi temuan, dan penyusunan laporan klinis secara presisi.
Hari Pertama: Membangun Landasan Ilmiah

Hari pertama dimulai dengan pre-test, pembukaan, serta pemetaan harapan peserta. Materi teori membahas etika, medikolegal, panduan POGI, fisika dasar dan biosafety, knobology, pemeriksaan trimester I, biometri trimester II–III, ginekologi normal, CTG dan profil biofisik, deteksi dini preeklamsia dan plasenta akreta, dasar Doppler, pelaporan, serta logbook.
Pembelajaran Praktis: Dari Ruang Kelas ke Layar Ultrasonografi


Pelatihan praktik diawali dengan pengenalan alat, dilanjutkan live demonstration pemeriksaan trimester I, trimester II–III, dan ginekologi. Seluruh pelatih mendampingi peserta dalam kelompok kecil untuk menghubungkan konsep anatomi, orientasi citra, pengukuran, serta interpretasi dengan gerakan tangan dan pengaturan mesin secara nyata.
- 01. ORIENTASI - Menentukan posisi pasien, memilih transduser, dan memahami orientasi citra.
- 02. AKUISISI - Mengoptimalkan depth, gain, focus, serta bidang potong yang dibutuhkan.
- 03. PENGUKURAN - Melakukan biometri dan dokumentasi sesuai panduan pemeriksaan dasar.
- 04. PELAPORAN - Menyusun kesimpulan yang relevan, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada pemeriksaan USG, kesalahan kecil dalam orientasi, penempatan kaliper, atau pengaturan mesin dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda. Bimbingan langsung memungkinkan fasilitator mengoreksi langkah sebelum menjadi kebiasaan. Peserta diminta tidak hanya memperoleh gambar, tetapi juga menjelaskan alasan memilih bidang potong dan kesimpulan klinisnya.
Penilaian Kompetensi: Belajar, Diuji, lalu Mendapat Umpan Balik


Pada hari ketiga, peserta mengikuti post-test dan uji kompetensi USG Obgin dasar dengan pasien trimester II–III. Penilaian berfokus pada kesiapan alat, komunikasi dengan pasien, urutan pemeriksaan, akurasi pengukuran, dokumentasi, serta kemampuan menyampaikan temuan secara profesional.
- 01. KESELAMATAN & ETIKA - Menjaga kenyamanan, privasi, biosafety, dan komunikasi profesional.
- 02. SISTEMATIKA PEMERIKSAAN - Menjalankan urutan pemeriksaan yang lengkap dan tidak melewatkan struktur penting.
- 03. KUALITAS CITRA - Mengatur mesin dan memperoleh bidang potong yang layak untuk dinilai.
- 04. BIOMETRI & DOKUMENTASI - Menempatkan kaliper secara tepat dan menyimpan bukti pemeriksaan.
- 05. INTERPRETASI KLINIS - Membedakan gambaran normal dan mengenali temuan yang memerlukan tindak lanjut.
- 06. PELAPORAN - Menyusun laporan ringkas, terstruktur, dan relevan bagi keputusan klinis.
Kolaborasi Pendidikan: Dua Senter, Satu Komitmen Mutu
Direktur pelatihan, Dr. dr. Arietta R.D. Pusponegoro, Sp.O.G., Subsp.Obginsos., memimpin rangkaian kegiatan bersama fasilitator dari Universitas Udayana dan Universitas Mataram. Kolaborasi ini memperkuat jejaring pendidikan regional sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman antarsenter.


Langkah Berikutnya
Pelatihan tiga hari ini menjadi awal dari proses belajar yang lebih panjang. Kompetensi harus dipelihara melalui paparan kasus, supervisi klinis, pencatatan logbook, diskusi temuan, dan evaluasi berkala. Dengan sistem pendidikan yang konsisten, teknologi USG dapat digunakan sebagai sarana pengambilan keputusan klinis yang cepat, tepat, dan aman.



